Abstract
Overthinking yang dipahami sebagai pola pikir berulang dan tidak produktif yang sukar dihentikan, menjadi keluhan yang semakin lazim di kalangan mahasiswa Indonesia di tengah tekanan akademik, ketidakpastian karier, dan paparan media sosial yang terus-menerus. Sejauh ini, kajian mengenai rumination dan kecemasan mahasiswa cukup banyak, tetapi sebagian besar berhenti pada kerangka psikologi umum dan belum menelusuri bagaimana mahasiswa Muslim memaknai serta mengelola overthinking melalui sumber daya spiritual yang dekat dengan keseharian mereka. Studi pendahuluan kualitatif ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman subjektif overthinking pada mahasiswa, faktor pemicunya, dampaknya terhadap kehidupan psikologis dan akademik, serta peran praktik spiritual Islam sebagai strategi coping. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan orientasi interpretatif. Enam mahasiswa program sarjana (tiga laki-laki dan tiga perempuan, rentang usia 18 sampai 24 tahun) dari sebuah universitas Islam di Jawa Barat dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman overthinking yang mereka akui sendiri. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipatif, dan jurnal harian selama tiga hari, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berbantuan perangkat lunak NVivo 12, dan diperiksa keabsahannya melalui triangulasi sumber dan metode. Tujuh tema muncul dari analisis, dengan tiga di antaranya menjadi temuan inti. Pertama, overthinking dihayati sebagai kegelisahan kognitif yang melelahkan dan terus berputar tanpa tombol berhenti. Kedua, tekanan akademik merupakan pemicu paling dominan yang berkelindan dengan kecemasan relasional, gangguan tidur, dan penurunan performa belajar. Ketiga, praktik spiritual seperti dzikir, salat, membaca Al-Qur’an, dan tawakal berfungsi sebagai mekanisme coping yang bermakna sekaligus selaras secara kultural bagi partisipan. Secara teoretis, temuan ini menempatkan coping religius sebagai penghubung antara upaya regulasi kognitif dan proses pemaknaan spiritual, bukan sekadar teknik relaksasi. Secara praktis, temuan ini menegaskan kebutuhan akan layanan bimbingan dan konseling Islami yang memadukan teknik psikologis dengan dimensi spiritual mahasiswa Muslim.
Keywords
Islamic counseling, Islamic spiritual coping, Muslim university students academic anxiety, Overthinking